Minggu, 21 April 2013

Mengasuh Anak Laki-laki

Lokasi  : Surau Al-Wakil, Wisma Antara Lt Dasar
Waktu : Kamis, 4 April 2013 pukul 12.15-13.30
Oleh    : Ibu Kodariyah,S.Psi (Yayasan Kita dan Buah Hati)

Anak laki-laki cenderung dididik keras oleh orang tua agar kuat, tangguh memikul tanggung jawab. Tapi seringkali perasaan anak diabaikan sehingga berakibat jiwa mereka hampa, miskin harga diri, minus kepercayaan diri.
Tentu kita ingin punya anak laki-laki yang cerdas secara akal dan emosi, bertanggung jawab, empati, mandiri dan lainnya, karena anak laki-laki kelak memikul tanggung jawab yang besar di masa depan sebagai pemimpin.

Typical anak laki-laki : Bebas, karakternya : Rasional

Cara mengasuh anak Laki-laki di antaranya :
-          Melibatkan mereka pada pekerjaan kelaki-lakian, untuk hal ini, peran ayah cukup penting. Sharing antara ayah dan anak laki-lakinya penting terjadi dalam tahapan ini untuk memupuk jiwa tanggung jawabnya.
-          Melibatkan pada pekerjaan rumah; bukan berarti mereka anak lelaki mereka tidak dilibatkan pada pekerjaan rumah, seperti merapihkan rumah dan lainnya, libatkan mereka untuk dapat tanggung jawab yg sama.
-          Komunikasi jelas hal yang paling penting dalam pengasuhan, baik anak laki-laki maupun anak perempuan, untuk itu rumusan komunikasi pada anak dengan cara menyampaikan perasaan kita padanya, mengemukakan masalah yang ada dan akibat yang ditimbulkan darinya, sehingga komunikasi yg kita lakukan pada anak efektif, tepat sasaran dan tidak mengandung hal mubazir hanya dengan luapan emosi saja.
-          Rumusan komunikasi untuk suatu hal yang efektif dilakukan dalam bentuk tanya, dan lakukan disaat yang tepat sehingga hasilnya maksimal.
-          Ingat, untuk menjaga harga diri anak dengan menegur di saat, waktu dan tempat yg tepat sehingga dia tidak kehilangan kepercayaan diri untuk menuju konsep diri yang positif.
-          Penyampaian dilakukan tidak mendikte, dengan bahasa tubuh yang baik; tegur anak dengan duduk disamping dia (sejajar), dengan bahasa tubuh lainnya seperti merangkul.

Selasa, 09 April 2013

Obsesi

Obsesi untuk selesai cepet tuh selalu menggebu-gebu di jiwa ini. Keinginan untuk segera KP (kerja praktek) merupakan harapan tahun ini untuk pencapaian di tahun 2014. Berharap aku berada dalam keberuntungan. Agar gelar ini segera di tangan, dan harapan yang ku dambakan dari SMK pun terwujud.. Amiin 

Mata kuliah Teknik Informatika

Obsesi by Lidia Kusumaningrum (April,10, 2013)

Eco Park

Guys, mau cerita pengalaman walking-walking di taman terbesar di Jakarta nih. Kira-kira readers tau tidak taman apa yang saya maksud?? Mungkin sebagian orang sudah pada tau, atau bahkan belum tau karena kesibukannya. Yaudah biar tidak penasaran kita kasih tau aja deh.
Taman yang saya maksud itu adalah Taman Eco Park, letaknya di sisi utara Jakarta. We know lah, sebagian Jakarta Utara itu adalah tanah milik Taman Impian Jaya Ancol. Berarti taman tersebut ada di dalam area taman bermain ancol. Yaah bayar dong ?? Ya pastinya untuk masuk ke area Ancol kita di kenakan biaya Rp 15.000/orang kalo berdua dan mengendarai motor kita dikenakan biaya jadi Rp 45.000. Lumayan tidak merogoh kocek terlalu dalam, dengan biaya masuk yang terjangkau kita pun dapat menikmati Pantai Jakarta dan Taman terluas di Jakarta (ECO park). Lambaian anginnya dapat, menikmati aroma rumputnya pun dapat.
sepedaan

Saya sudah 2 kali ke taman Eco Park, suasananya yang asri dan tentram membuatku tak pernah bosan kesana. Taman ini jika Anda telusuri dengan bersepeda akan terasa lebih nikmat apalagi ditemani sang pacar. Waktu pertama kali kesana ada kesan 'wah' yang membuat jiwa bikers kita tertantang. Karena selain tracknya yang memang di desain untuk kendaraan sepeda, ada pula track sepeda yang menantang di sini. Jembatanya yang curam membuatmu akan merasa tertantang dan menyesal kalau tidak mencoba areal tersebut. Bahkan saya pun sempat terjatuh dengan jarak 20 cm dari tengah jembatan.

bukan disini yang curamnya

Mulai dari pertama masuk, danau buatan yang dikelilingi ilalang terkesan dan terasa bahwa saya seakan berada di daerah pedesaan. Jalan setapak yang di desain nya pun membuatku makin merasakan segarnya rerumputan sore hari yang bergoyang. Hamparan rerumputan yang di perlihatkannya pun membuat saya ingin berguling-guling disana. Saya pasti akan tampak aneh di mata mereka entah itu norak atau sikap yang berlebihan. :D

jalan setapak

Setapak demi setapak ku menemukan kembali danau buatan. Di tengah danau itu kembali di perlihatkan view bebatuan besar di tengah danau. Tersedia pula kayu-kayu dermaga di pinggir-pinggir danau yang pastinya membuatku seakan kembali ke dunia yang tidak bisa saya temui di Jakarta sebelumnya. Sungguh indah pesona yang di berikan di taman tersebut.

dermaga 

Selepas itu, kini saatnya ku di tempat pemberhentian. Ada satu tempat yang mengundang disana, apakah itu,, itu adalah mercusuar mini yang terbuat dari kayu. Sebenernya sih maunya menapaki tangga mercusuar yang tinggi seperti yang di Anyer, tapi belum rezeki dan coba rasakan dulu deh mercusuar yang sedikit tinggi ini. Tanpa berpikir panjang, ku menapaki tangga yang tidak tinggi. Ada satu ruang kecil berukuran setengah meter dan tinggi menjulang seperti rumat panggung. Melihat pemandangan hamparan luas yang hijau dan danau yang tenang membuat diri ini ingin berlama-lama disana. Anginya yang sepoi-sepoi menambah keasrian tempat tersebut.

Hari sudah hampir gelap, adzan Maghrib pun berkumandang merdu. Sudah saatnya aku kembalikan sepeda pinjaman seharga Rp 20.000/jam itu. Pesonanya taman di tengah kota tersebut membuat ku semakin cinta kota Jakarta.

Senin, 08 April 2013

Siswa vs Mahasiswa

Selesai UTS (Ujian tengah Semester) semalam ku baru menyadari kalo kita sebagai mahasiswa sangat berbeda jauh dengan seorang siswa. Ya kalo di liat dari penyebutannya saja sudah jelas-jelas terlihat bedanya. Secara tulisanya sudah 'Maha' lebih dari siswa, yang seharusnya diikuti dengan sikap dan perilaku semestinya. Tapi bener-bener deh, sudah hampir 2 tahun saya berkuliah di Universitas Esa Unggul, tadi malam baru dibisikan saya adalah Mahasiswa. haha lucu, emg kemana aja sih gue ini. Yaudah sekarang kita bahas aja yuk apa sih yang membedakan kita dengan mereka yang masih berstatus siswa. cekidot.

Pertama, Penampilan
Jelas ini sangat berbeda dengan siswa dimana soerang siswa masih diatur-atur dalam berpakaian. Hmm, sebenernya sih gue suka dengan uniform SD, SMP, SMK karena gue ga harus mikir musti pakai baju apa. hihi

Kedua, Pola pikir
Kenapa dengan pola pikir? nah ini yang membuat saya sadar. Coba deh inget-inget, impian apa yang ingin di gapai di bangku sekolah. Mendapat Rangking 1 kan?; nah dari situ sudah keliatan tuh. Kalo di sekolah atau masih berstatus siswa, gue ga merasa mikir tuh bahwa LULUS bareng-bareng. Yang ku pikirkan bahwa gue harus naik ke panggung. Sayangnya yang naik ke panggung dulu waktu di SMK Telkom cuma yang mendapat peringkat 10 besar. haha. memang ga hoki dan kalah saing dengan temen-temen yang lain. Alhasil hanya duduk di bangku penonton yang bilang 'Selamat yaa..(dengan senyum kesel karena ga bisa naik ke atas panggung)'. pengalaman yang buruk. *jangan di contoh ya. tapi readers itu merupakan motivasi gue sekarang ini agar gue bisa tersenyum tanpa kekecewaan yang mengganjal :p
Keliatan kan tuh yang namanya persaingan. Dan berharap impian itu kecapai di panggung wisuda Universitas Esa Unggul kelak. Amiin.
Coba kalo kita liat di bangku perguruan tinggi. Mana ada tuh yang namanya lu ga dibolehin mencontek ama temen lu yang pinternya kebangetan. Lu bakal di kasih contekan ke dia sekalipun lu ga memberikan dia apa-apa.  :p
Semalam gue merasakan itu, kita saling membantu, karena kita satu perjuangan (bekerja sambil kuliah) ini lah yang namanya kerja sama dalam keburukan :)) . bekerja sambil kuliah itu hal yang sulit loh kalo dpikir-pikir. Tapi readers jangan di pikirin, tapi dijalankan ya. Insya Allah berbuah manis.
Nah, mahasiswa : 'kita masuk bareng-bareng dan LULUS musti bareng-bareng' Setuju ga?

Ketiga, Posisi duduk (Kelas)
Oiya, ini keliatan banget. Posisi duduk seorang siswa dengan mahasiswa berbeda jauh. Kalo dulu SMPN 111 tuh namanya moving class. Dan ini tidak berhasil, karena kebanyakan dari siswa pada memilih ke kantin ketimbang mengikuti pelajaran selanjutnya, dan di anggap ini tidak efektif. huh dasar anak-anak. Tapi saat di perkuliahan itu juga namanya moving class, dan ini berhasil bahkan efektif. Kalo ini sih balik lagi ke pola pikir, seorang mahasiswa membutuhkan mata kuliah itu dan perkuliahan itu adalah pilihanya, maka tak sepatutnya dia tidak mengikuti perkuliahan itu. Alhasil dia mengikuti kelas-kelas yang sudah dia pilih. Sedangkan siswa yang mata pelajarannya masih di 'cekokin' mewajibkan dia mengikuti pelajaran tersebut, walaupun jiwanya berontak. *sedikit lebay*

Ya perbedaan di atas hanya dari pemikiran saya sejenak, sambil mengisi waktu yang sangat luang di kantor. Sedikit sih, tapi ketiga ini lah yang paling terasa di benak saya yang membuat saya tersenyum kecil jika membayangkan waktu saya berstatus SD, SMP, SMK dulu. Nah, ada lagi kah pendapat kalian ?